Impian
Rumahku Rumah Impian
Kubangun dengan mimpi-mimpi
Di dalamnya anak-anak mengaji
Yang rindu akan pelangi
Rumahku Rumah Impian
Kubangun dengan mimpi-mimpi
(Prasasti Rumah Impian, 2006)

Perut keroncongan. Orang-orang berhamburan. Selesai sudah hari ke-2 pelatihan. Bulan bintang menyinari kami mujahid perang. Aku masih merasakan “jalan-jalan” ke neraka. Sementara temanku sembab matanya. Oh Tuhan ijinkan kami meninggalkan dunia ini khusnul khotimah. Terlalu pedih. Tak bisa kami menanggung adzab-Mu. Lindungi kami. Lindungi kami. Bulan bintang jadi saksi do’a kami malam itu.
Malam ke-3 kami bermalam di masjid. Supaya bisa menghemat pengeluaran. Dan paling penting agar tubuh ini bisa beristirahat lebih lama. Aku dan kawan temanku menyantap nasi goreng. Sementara temanku sendiri lebih memilih terlelap di sudut masjid. Sepasang suami istri penjual nasi goreng ternyata pernah berdagang di Ciroyom. Jadilah kami mengobrol “ngalor ngidul” sambil menyantap nasi goreng sederhana nan lezat. Nasi goreng selesai disantap. Tak lupa kami memesan satu porsi untuk temanku yang sudah terlelap.
Lampu masjid sudah dimatikan. Para musafir seperti kami sudah larut dalam mimpinya. Di bawah masjid orang-orang masih mendekor untuk walimah esok hari. Meja ijab kabul yang dipakai walimah tadi pagi pun belum disingkirkan karena esok masih ada hajatan serupa. Dalam gelapnya masjid aku masih bisa melihat meja itu. Dan tiba-tiba aku teringat bapak-bapak berjenggot bak Bang Rhoma. Bidadari sorga. Bidadari sorga. Lantas aku mengambil wudhu. Lalu memanjat do’a: meminta bidadari sorga.
Esok adalah hari terakhir. Sayang rasanya kalau dilewati dengan ngantuk seperti hari ini. Bergegas tubuh menuju sudut masjid. Beristirahat. Sebelumnya aku sempat memikirkan tugas yang harus aku kerjakan untuk esok hari: menuliskan ultimate goal. Akhirnya aku sepakat untuk menuliskan ultimate goal yang lebih berhubungan dengan nilai materi. Karena memang dari keempat nilai yang kami pelajari di pelatihan hari ke-2 ini, nilai materi lah yang masih kurang. Sementara nilai kemanusiaan, moral, dan spiritual insya Allah dapat terjaga, asalkan dapat menggenggam kuncinya. Yaitu: selalu dekat dengan-Nya.
Inilah ultimate goal yang aku tulis:
Alhamdulillah…, aku bersyukur pada-Mu yaa Allah, karena Engkau telah menjadikan diriku sebagai:
1. THE WORLD CLASS Meaningful Motivator
2. Penulis MEGA Best-Seller Internasional
3. Orang KAYA RAYA dan DERMAWAN seperti Abdurrahman bin Auf
Aku punya impian membangun Rumah Impian. Maka aku harus kaya raya. Oleh karena itu, aku pun menulis 2 kondisi ideal diriku yang berhubungan dengan kaya raya. Inilah kondisi ideal diriku selengkapnya. Alhamdulillah…, aku bersyukur pada-Mu yaa Allah, karena kini aku menyadari bahwa Engkau telah menciptakan diriku sebagai:
1. MONEY Magnet
2. PEOPLE Magnet
3. Laki-laki yang selalu dapat MELINDUNGI dan MEMBUKAKAN jalan bagi wanita
4. Manusia IKHLAS
5. Manusia yang selalu TAKUT kepada Allah Swt.
Tak Akan Berhenti
Aku manusia pejalan
dari kemarau ke bulan
melepas fajar menanti senja
mengejar bayanganku sendiri
“Jangan tinggalkan rumah,” kata Ibu
karena di sana aku lahir, besar,
dan mimpi-mimpi
tapi aku. Lompati pagar
aku ikuti jalan raya
memilih barat ketimbang timur
hanyut di sungai, terapung di lautan,
terkapar di jalanan
aku lelaki pejalan
tak tahu kapan mesti berhenti
(Heri H. Harris)

Uang semakin menipis. Angin pagi menyaksikan kami yang hanya menyantap gorengan. Lumayan. Daripada tanpa makanan sama sekali. Di hari ke-3 akhirnya cita-citaku tercapai: duduk ditengah! Karena selama 2 hari yang lalu kami selalu duduk di bagian pinggir. Kenapa di tengah? Karena lebih sejuk. Itu saja.
Tapi kesejukan itu dikagetkan dengan cairan kuning nan lembek yang bersarang di rambut sebelah kiriku. Temanku yang memberi tahu saat senam pagi yang membahana luar biasa. Cairan kuning nan lembek itu pun berbau tak sedap. Inikah pertanda ultimate goal aku segera tercapai? Loh apa hubungannya. Nggak ada. Iseng aja. Temanku membantu membersihkan “pertanda” di pagi hari itu. Lantas kemudian aku terbirit ke toilet membasuh dengan air suci.
Pada kesempatan kali ini aku hanya ingin bercerita:
Ada 2 pemuda mencintai seorang Putri. Dua orang pemuda mirip satu sama lain. Ganteng. Berpendidikan. Serta sudah bekerja. Kemudian mereka melamar sang Putri.
Tok tok tok. Pemuda pertama mengetuk pintu. Pintu dibuka. Disambutlah ia oleh Ayahanda sang Putri. “Assalamu’alaikum…” ucapnya santun.
“Wa’alaikumsalam… Eh nak Bobi, silahkan masuk.” Balas sang Ayah. Akhirnya pemuda pertama yang diketahui bernama Bobi itu dengan wajah malu-malu masuk, kemudian duduk di sofa ruang tamu.
“Kami sudah mengetahui maksud kedatangan nak Bobi… ingin melamar Putri toh?” sang Ayah berceletuk.
Dengan gemetar, Bobi menjawab pertanyaan “calon” mertuanya itu, “Iya Om… eh Pak.. hehe. Saya…” belum selesai kalimat diucapkannya, adzan duhur sudah berkumandang.
“Alhamdulillah… mari nak Bobi, kita sholat dulu. Nak Bobi jadi imam ya.” Seru sang Ayah.
Keringat dingin mengucur dari wajah Bobi. Akhirnya dengan kondisi cemas gemetaran, ia menyanggupi permintaan “calon” mertuanya itu. Menjelang takbiratul ihram tiba-tiba Bobi membalikkan badannya. Kemudian ia berkata, “Ayah… hehe maaf. Shalat duhur berapa rakaat ya?”
Beberapa menit kemudian. Bobi menangis bombay. Lamaran ditolak!
Tiga jam kemudian datang seorang pemuda lagi. Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, sang pemuda disambut oleh Ayahanda Putri, “Mari masuk nak Wahid.”
Baru saja pemuda yang bernama Wahid itu duduk, tiba-tiba adzan ashar menggema. Sang Ayah pun bersorak riang, “Alhamdulillah… nak Wahid, kita shalat Ashar dulu. Nak Wahid jadi imam ya.”
Dengan langkah mantap Wahid mengambil air wudhu kemudian mempersiapkan shalat ashar serta mengatur shaf. “Allahuakbar…”
Dan Sang Ayah menerima lamaran Wahid.
Aku bersama semua orang yang ada di ruangan menyimak cerita itu. Dan tentunya aku selalu mengambil hikmah dibalik maknanya. Teringat impian atau ultimate goal yang baru saja aku tulis, aku berazzam untuk tidak akan pernah berhenti melangkah sebelum mimpi-mimpi itu terwujud. Apa yang kau takutkan? Tidak ada kan? Cuma disuruh shalat doank! Iya kan? Tarik Mang…!
Cinta Tanpa Syarat
Saat ku duduk di kesendirian
Di antara rindu dan asa
S’lalu terbayang dalam anganku
Senyummu yang lembut dan tulus
Kurindu padamu yaa Rasul
Kurindu ada di dekatmu
Ingin kujumpa sekejap saja
Meski dalam mimpi
Allohumma sholli ‘ala muhammad
yaa robbi sholli ‘alaihi wa sallim
(BPM, Rinduku)
Sebelum ashar air mataku membuncah kembali seperti hari kemarin. Aku menatap kosong ke depan. Perlahan air mata mengalir ke dua pipiku. Aku tak bisa bergerak. Bahkan sulit untuk mengusapnya. Iringan lagu “Rinduku” semakin membuat kedua mataku sembab. Rasulullah Saw. selalu memikirkan umatnya. Membela dengan gagah berani. Dan menjadi pencerah serta penyegar jiwa. Namun sekarang aku masih belum berbuat banyak. Rasul dihina aku diam saja. Kitab yang disampaikannya dibakar, aku hanya melongo. Islam diporak-porandakan, paling banter aku hanya berdo’a. Hanya ini. Pedih. Padahal Rasulullah Muhammad Saw. yang menghantarkan Islam kepadaku, kepada kami semua. Tanpanya mungkin kami masih jahil. Astagfirullah…
Andai Rasulullah Saw. di depanku aku bingung ingin berucap apa. Mungkin hanya maaf. Maaf karena banyak melakukan aktivitas yang seru namun tidak penting. Padahal ada yang lebih penting dilakukan daripada yang lebih seru.
Di malam pertama di atas warung internet aku berpikir tentang cinta tanpa syarat. How can someone show love over and over again when they’re constantly rejected? Rasulullah Saw. melakukannya. Beliau memberikan cinta dan kasih sayangnya bukan hanya kepada kaum muslimin, namun juga pemeluk agama lain. Masih membekas kisah Rasulullah yang menyuapi si pengemis buta Yahudi setiap pagi di pasar. Meskipun dikatakan penyihir dan orang gila oleh si Yahudi itu, beliau tetap menyuapinya hingga ajal menjemputnya. Cinta tanpa syarat, inilah yang sedang aku latih.
Sore itu hampir tenggelam. Hari mulai gelap. Setelah maghrib training masih berlanjut. Saat sesi terakhir kami diajarkan untuk mengganti hal-hal negatif dengan yang positif kemudian menuliskannya dalam buku selama 40 hari. Agar permanen. Teknik itu juga bisa digunakan untuk mengubah kebiasaan. Insya Allah.
Tak terasa malam semakin pekat. Pelatihan 3 hari telah usai. Aku dan sang trainer sempat bertukar senyum dari kejauhan di saat aku sedang mengisi testimoni. Terima kasih guru.
Pukul 21.30 malam. Aku dan kawan temanku menunggu di masjid. Beberapa menit kemudian temanku nongol. Secepat kilat kami berjalan menuju terminal busway. Sayang oh sayang. Kami telat. Jam menunjukkan pukul 22.04. Maaf. Terpaksa kami naik bus kota menuju Blok M.
Aku benar-benar lelah. Kami menuju Kampung Rambutan setelah dari Blok M. Aku berada di theta. Kadang tidur kadang terjaga. Dalam bus kota menuju Kampung Rambutan aku teringat kembali perjalanan sejak di kereta di mana aku yang larut dalam renungan. Inilah perjalanan. Inilah kehidupan. Batinku. Kadang sedih, kecewa, marah, bahagia, dan suka cita. Nikmati saja.

Kami say goodbye dengan kawan yang dari Jakarta. Bis menuju Bandung sudah siap meluncur. Bandung kami pulang. Bandung yang nyaman. Aku berucap do’a: semoga perjalanan baik-baik saja. Lalu menutup mata. Terima kasih Jakarta. Terima kasih cinta… impian, dan perjalanan.
Selesai.
Satu jam sebelum subuh, 26 Februari 2011
Ucapan terima kasih: dua mujahid perang, panitia & fasilitator pelatihan, orang yayasan, pengurus masjid, supir busway dan bus kota, masinis kereta, tukang gorengan, tukang nasi goreng, teman-teman yang “sebenarnya” aku tampilkan di catatan ini namun tidak bisa aku sebutkan namanya, de-el-el.
Semoga banyak hal yang bisa diambil hikmahnya. Jadikan ini semua sebagai pelajaran kehidupan.
Salam Impian!
Duddy Fachrudin,
Salah seorang hamba-Nya yang berkelimpahan, insya Allah
Pernikahan
“Wahai Ali, ada tiga perkara jangan ditunda-tunda,
apabila SHALAT telah tiba waktunya,
JENAJAH apabila telah siap penguburannya, dan
PEREMPUAN apabila telah datang laki-laki yang sepadan meminangnya.”
(HR. Ahmad)

Hari pertama berlalu. Aku mendapat relasi baru. Pengalaman baru. Serta komitmen baru tentang hidup. Jujur saja, dari seluruh materi yang diberikan di hari pertama, yang paling mengena adalah tentang KOMITMEN 100%. Mungkin karena nilai utama dalam hidupku adalah komitmen, maka hal tersebut sangat mengena di diriku.
Kami mujahid perang menuju masjid. Antrian panjang mengambil wudhu terlihat layaknya pasien ponari. Jadilah kami menyantap siomay terlebih dahulu yang juga dikerubuti manusia-manusia yang kelaparan. Seseorang memakai baju koko coklat dan celana bahan “ngatung” menghampiriku lalu bertanya, “Assalamu’alaikum… Mas ada acara apa?”
Aku yang sedang mengunyah siomay menjawab, “Wah’alaikumh…salam… Ong.. winih hada puelatihan.”
“Pelatihan apa?” Bapak-bapak berjenggot lebat mirip Bang Rhoma Irama bertanya lagi.
“Uh Teh Ha Beh… grahtis Pak. Mahkannya pehsertahnya bahnyak.” Aku bicara sambil makan siomay. Lalu setelah siomay sudah aku telan semua, giliran aku yang bertanya, “Ngomong-ngomong, ada nikahan ya Pak? Tadi saya lihat di depan pintu masjid bagian bawah di dekor untuk nikahan?”
“Iya Mas. Besok ada yang mau nikah. Bahkan besoknya lagi juga ada. Jadi hari sabtu dan minggu ini ada dua pernikahan. Mas sudah menikah?”
Tiba-tiba siomay yang siap aku makan jatuh ke tanah. “Eh… apa Pak tadi?”
“Mas sudah berkeluarga?” Bapak-bapak berjenggot lebat itu mengulang pertanyaannya.
“Oh… belum Pak. Insya Allah sebentar lagi. Do’akan aja Pak.”
“Bapak do’akan Mas semoga cepat mendapat jodoh yang baik, bahkan perempuan yang kualitasnya seperti bidadari sorga.” Bapak-bapak mirip Bang Rhoma itu kemudian beranjak pergi. Sandal tipisnya menyapu aspal senayan. Ia kemudian belok di sudut kiri jalan. Dan menghilang.
Aku menyadari teman ngobrolku telah pergi saat siomay di piringku sudah habis. Tiba-tiba kedua kawanku memanggilku. Walah… saatnya shalat maghrib. Dalam antrian aku mengingat-ingat obrolan dengan bapak-bapak itu. Bidadari sorga? Adakah di dunia yang semakin amburadul ini?
Bidadari Sorga
Wajahnya menentramkan jiwa
Itulah bidadari sorga.
(Bidadari sorga, 2011)
Malam kedua aku dan temanku dihabiskan di sebuah kawasan di Jakarta Selatan. Kami menginap di sebuah yayasan anak yatim dan dhuafa. Jarak dari Senayan tidak sejauh dari warnet tempat pertama kali kami menginap. Namun ada yang membuat aku tidak nyaman: tubuhku diserbu nyamuk-nyamuk lapar!
Perjalanan menuju yayasan ternyata tidaklah mudah. Penuh liku dan rintangan. Ada seorang kawan lagi yang membantu kami bertiga dalam proses evakuasi ke yayasan. Aku bersamanya di atas roda dua. Sementara temanku dan kawannya bertualang di transjakarta dan bus kota. Dua pasukan ini menuju satu medan perang: ITC Fatmawati.
Aku yang berada di atas roda dua bersama kawan yang dari Jakarta ternyata melalui perjalanan yang tidak mudah. Aku sendiri merasa melalui jalan yang sama terus menerus. Menemui polisi lalu lintas yang sama yang tidak menilang kami karena aku tidak memakai helm. Sampai suatu saat di perempatan lampu merah kawanku berkata, “Maaf saya lupa jalannya.” Siiing… , tiba-tiba saja waktu seakan berhenti.
Akhirnya dua pasukan bertemu di Blok M, dan kawanku yang mengendarai motor menyampaikan kode rahasia kepada dua temanku yang akan naik bus kota. Kode rahasia bus yang harus dinaiki supaya terhindar dari musuh! Kami pun berpisah dan berjanji bertemu di ITC Fatmawati. Waktu berselang. Aku dan kawanku sudah sampai. Namun dua temanku yang naik bus kota belum kelihatan pantat dan jambulnya (maaf bosan dengan batang idungnya, hehe). Tahukah anda kenapa dua temanku itu belum datang. Kawanku yang bersamaku mengatakan, “Waduh, saya salah memberi kode rahasianya!” Siiing… , tiba-tiba saja waktu seakan berhenti. Akhirnya yang ditunggu nongol juga.
Sebelum menuju yayasan aku memesan ketoprak buat mengganjal perut yang berdendang. Ketoprak adalah makanan khas Cirebon. Aku tanya yang dagang, tapi ternyata ia bukan dari Cirebon, tapi Tegal. Sudah dua tahun ia berjualan ketoprak di daerah itu dan hasilnya cukup buat hidupnya di Jakarta. Ketoprak selesai dibuat, kami meninggalkan mas penjual ketoprak. Say goodbye & thanks. Yayasan kami datang!
Malam sudah pekat. Ketoprak sudah habis. Aku membaringkan badan di lantai beralas tikar, lalu berucap do’a: semoga besok bertemu bidadari sorga.
Paginya Jakarta tampak sepi. Maklum sekarang weekend, jadi mereka semua melancong ke kota sebelah untuk berlibur: Bogor atau Bandung. Aku sendiri bingung dengan pola hidup orang Jakarta. Senin-jum’at bekerja mencari uang, sabtu-minggu dihabiskan untuk belanja dan foya-foya. Dan itu berulang setiap minggu. Shopping tiap minggu, astagfirullah. Padahal banyak orang-orang miskin butuh uluran tangan kita orang-orang kaya. Mereka yang hidup di kolong jembatan perlu kita tengok dan cium kedua pipinya. Pantas saja Allah sering menimpakan bencana kepada kita, jika hidup kita seperti ini. Tidak bersyukur atas apa yang telah diberikannya.

Setelah turun dari busway kami melangkah menuju Senayan. Temanku tiba-tiba mau “melahirkan”. Mendengar temanku mau “melahirkan”, aku berkata, “Menikah itu sama seperti “melahirkan” (buang air besar, red), nggak boleh ditahan-tahan.” Dan itulah tema obrolan kami di sepanjang perjalanan menuju tempat pelatihan di hari ke-2. Jadi jodoh itu ya dijemput, bukan ditunggu. Dan hanya laki-laki sejati yang berani menjemput jodoh (mengajak menikah kepada calon pasangan hidupnya, tanpa embel-embel pacaran, red).
Sebelum masuk wisma, temanku “melahirkan” terlebih dahulu. Aku dan kawanku menunggu di luar WC masjid. Beberapa saat kemudian ada sekumpulan orang memakai kebaya dan batik. Hmm… sepertinya ini salah satu dari dua pihak keluarga yang akan menikah hari ini. Di antara mereka ada dua gadis kecil imut berjilbab ungu. Aku memandangnya lama. Cantik sekali. Mungkin seperti inilah kecantikan bidadari sorga. Atau bahkan lebih cantik dari ini.
Cita-cita
Mengarungi samudera kehidupan
Kita ibarat para pengembara
Hidup ini adalah perjuangan
Tiada masa ‘tuk berpangku tangan
(Shoutul Harokah, Bingkai Kehidupan)
Aku ngantuk abis di hari ke-2 ini. Terutama saat pukul 10-an sampai menjelang sesi “jalan-jalan” ke neraka. Aku juga terasa lemas. Mungkin gara-gara nyamuk-nyamuk yayasan menguras darahku. Siangnya bukannya makan, tapi malah asik di stand buku anomali. Baca-baca. Ngobrol-ngobrol sama yang jaga stand. Lalu… beli. Sebenarnya aku beli buat dikasihkan ke seseorang. Ia minta souvenir, tapi aku beliin buku. Yah, buku lebih penting daripada souvenir. Lagian itu buku unik, nggak ada di toko buku.
Sesi “jalan-jalan” ke neraka membangunkan tidurku. Parfum mayat di kain kafan menyayat urat nadiku. Aku tak berdaya. Aku seperti mau mati saja. Seluruh peserta meraung kesakitan. Lumpur nanah panas menohok tenggorokanku. Aku mau muntah. Namun entah kenapa aku terus meminumnya. Aku diceburkan ke panci berisi lahar. Dagingku matang. Tulangku mencair bak lilin yang meleleh. Aku menangis. Lidahku terus menyebut nama-Nya. Memohon pertolongan-Nya. Meminta ampunan-Nya.

Aku masih mencium parfum mayat. Aku hirup sepuasnya. Inilah diriku saat aku mati. Yang kemudian digerogoti pemakan mayat. Dan dihimpit tanah lembek, menyatu dengannya.
Hari ke-2 pelatihan mengingatkan diriku saat mencari dan menemukan Islam. Sebuah perjalanan mencari kebenaran dan menguak kebohongan-kebohongan. Beberapa tahun lalu. Beberapa tahun lalu. Hingga menjadi diriku yang sekarang yang sulit didefinisikan. Islam yang menjadi furqan antara haq dan bathil. Islam yang lebih mendekatkan kepada Allah dan Rasulullah serta para sahabatnya. Islam di mana Allah sebagai tujuan. Insya Allah.
to be continued…
Kamar Sunyi—Kampus, 24 Februari 2011
Kalau kita memang merasa banyak “PR” yang harus kita kerjakan, apakah itu berkaitan dengan diri kita sendiri, keluarga, masyarakat, dan Islam ini… lantas kenapa kita masih terlena dengan urusan-urusan yang kurang bahkan tidak penting? Ah… hidup ini sangat sebentar dibandingkan kehidupan kita selanjutnya yang tak terhingga. Kalau saat ini kita hidup sesuka kita, maka Allah pun berhak suka-suka terhadap kita.
Ada apa denganmu?
Ada apa dengan langkahmu?
Bukankah ini yang kau inginkan?
Bukankah ini yang kau impikan?
Berbulan-bulan dirimu menari di atas duri yang tajam
Kini sudah saatnya kau melenggok mesra di atas permadani
Beriuhkan senyum dan tepuk tangan orang-orang
Dan pastikan suara kelam itu hilang
Beberapa hari lagi malaikatku
Beberapa hari lagi…
Karena itu bantu aku terbang dengan sayapmu
Sembari meneduhkan diri di istana awan
Beberapa hari lagi impianku
Beberapa hari lagi…
Karena itu tunggulah aku
Aku baru bersiap dengan ransel dan sepatuku
(Menanti Awal Pendakian, Suatu hari di 2007)

Kereta
Kamis siang itu aku bersama temanku menuju stasiun. Kami menyapa wanita gerbong, lalu kemudian duduk di 10 A dan 10 B. Argo-Parahyangan mulai bersiul… lambat laun rodanya menari di atas rel. Kereta berangkat dengan tujuan Gambir, Jakarta. Mengantar kami mengikuti sebuah pelatihan. Jakarta… Aku berucap do’a. Semoga perjalanan baik-baik saja.
Kalau ada yang mengatakan aku bahagia saat itu adalah sebuah kebohongan besar. Bahkan bagian diriku yang mencoba menghiburku tak kuasa pada bagian diriku yang merenung sepanjang perjalanan. Dan aku memilih yang kedua dengan menghadapkan wajahku ke jendela; melihat sawah, jurang, realita, serta anak-anak yang bermain bola. Mereka asik bermain. Bebas. Bahagia. Tertawa. Seperti saat aku kecil yang menyepak kulit bundar setelah ashar sampai maghrib. Tapi kini aku bukan mereka atau aku kecil. Aku kini adalah aku yang ada di kereta dan termenung. Itu saja.

Aku masih terlelap dalam renungan. Mengabaikan petugas yang menawarkan nasi goreng dan minuman. Dalam renungan terngiang-ngiang sebuah lirik yang sering aku dengar dalam dua minggu ini:
Love is so funny when you get hurt and you’re starting to laugh
just standing alone now figuring why everything was going so fast
and all you’ve wanted was someone and love will take care for the rest
like I can do…like I want to…for so long…
Saat itulah tiba-tiba terlintas untuk melakukan solo avonturir. Petualangan sendiri bersama raku—ransel kuningku atau Nordwand 30 liter-ku. Rencana awal tentu saja ke Timur. Aku bisa ke Jogja, Semarang, Solo, sampai Surabaya. Aku bisa melakukannya semester ini, karena aku hanya mengerjakan skripsi. Petualangan seminggu! Atau bahkan lebih… menjauh dari Bandung yang nyaman dan melepas kepenatan.
Aku juga memikirkan untuk meninggalkan Bandung seusai kuliah. Aku butuh kehidupan yang lebih keras lagi. Aku sudah mempersiapkan rencana dan komitmen untuk bergabung dengan salah satu lembaga training dan konsultan terbesar di negeri ini. Tentunya aku akan banyak belajar. Ya!
Aku terjaga dari lamunan saat Argo-Parahyangan menyapa Cikampek. Saat itu pukul 16.45-an. Kemudian berdikusi ringan dengan temanku; seputar buku yang ia baca dan juga rencana petualanganku. Tak lama kemudian gerbong-gerbong menyentuh Bekasi. Dan pukul 18.15 tepat, Jatinegara menampakkan wajahnya yang disinari senja sore. Kami turun sembari mengucap syukur. Dan angin Jatinegara menyambutku dengan membisikkan kata-kata: kamu akan bahagia, percayalah.
Jakarta
Kotak-kotak teka-teki
Masih kosong tak berisi
Berulang kali, aku menyeru
Yang datang terus debu
O, cinta yang dilanda kemarau
Adalah luka dalam mimpi kemilau
: sempurnalah kesunyianku!
(Toto ST. Radik)
Sepertinya aku butuh sepatu lapangan. Supaya nyaman saat bertualang. Itulah yang aku pikirkan saat berjalan menuju sebuah kawasan di Jakarta Timur. Selain temanku, kami bertemu seorang kawan. Ia kawan temanku yang juga ikut pelatihan. Jadilah kami bertiga bertualang, layaknya mujahid perang.
Sesampainya di daerah sekitar Pisangan, aku langsung istirahat. Sebelumnya sholat, makan, memandang malam dan kolong jembatan, serta menyapa dan menjawab seorang teman via short message service. Aku pun berusaha menulis atau membaca karangan, namun temanku sudah terlelap. Jadilah aku ikut berbaring di sebuah lantai di atas warung internet. Lampu dimatikan. Aku termenung perlahan tentang cinta tanpa syarat. Cinta tanpa syarat… lalu aku terlelap panjang.
Fajar pagi mulai menyapa langkah kaki kami bertiga. Aku perlahan mulai tersenyum menampakkan wajah bahagia. Apalagi ini Jum’at, hari tersuci dalam Islam. Maka aku menyambutnya dengan cinta. Meskipun semua orang tahu sendiri, Jakarta pagi; siap-siaplah dengan ledakan mobilisasi orang, kemacetan, serta polusi.

Terminal busway sesak penuh orang. Seorang perempuan berkata, “Permisi… permisi… ,” yang lainnya mendorong-dorong. Namun ada juga yang santai sambil mendengarkan sesuatu di earphone-nya. Inilah Jakarta pagi. Semua sibuk dengan urusan masing-masing. Mereka melangkah cepat mengejar waktu demi menjemput materi. Namun sayang, kesannya sendiri-sendiri, tanpa sapa, tanpa empati.
Kami berhenti di masjid Agung. Sebuah kesalahan, karena harusnya turun di terminal sebelumnya. Jadilah kami jalan ke senayan. Sesampainya di senayan, kami masih harus mencari tempat pelatihan. Di manakah gerangan? Tubuhku diusap debu jalanan serta knalpot jalanan. Menyatu dengan keringat yang bercucuran. Tak lama setelah tanya sini tanya situ, kami, tiga sekawan sampai di tempat tujuan.
Pelatihan
Sebentuk pelangi yang menemani
Dialah perempuan bidadari
(sebuah tulisan dalam “Perempuan Bidadari”)
Aku salah satu dari 900-an peserta dalam pelatihan. Kami semua masuk dengan berlari, layaknya pemain football america ketika masuk lapangan. Iringan musik menemani senam pagi. Membahana luar biasa layaknya orkestra. Sang pelatih muncul. Ia lebih pendek dariku, namun sangat berenergi. Aku terkesima takjub dengan penyampaiannya. Keren. Inilah pelatihan terbesar yang pernah aku ikuti.
Saat sesi latihan aku bertemu seorang guru dari Bandung. Pertama kali yang ia katakan adalah, “Masih lajang?” Haha… aku mengangguk. Ketika aku mengatakan aku dari Psikologi Unisba, ia berucap tentang seorang dosen. Aku kembali mengangguk, mengenalnya. Ia adalah salah satu dosen yang aku kagumi, karena pembawaannya lincah. Tiga kali aku dibimbing oleh dosen itu. Terakhir saat semester ganjil yang lalu. Dan aku diberi A.

Saat berjalan hendak sholat Jum’at aku bertemu lagi dengan guru itu. Tiba-tiba aku melihat sebuah tulisan pada jaket yang dikenakannya. Sebuah identitas yang menunjukkan nama sekolah tempat ia mengabdi. “Bapak berarti mengajar… ?” aku langsung menanyakannya. Dan ia mengangguk. Pantas saja ia menanyakan kepadaku tentang sang dosen, karena kedua anak sang dosen itu diajar olehnya. Aku mengenal salah satunya. Pertama kali aku mengenalnya saat ia bertanya Statistika. Ah… tiba-tiba aku jadi bersemangat, melupakan lamunanku di kereta kemarin. Kebetulan? Aku tak tahu… karena aku juga tak ingin membahas teori itu lagi. Tapi yang jelas, terik matahari menjadi saksi kebahagiaanku saat itu.
Kamu akan bahagia, percayalah… Bisikan angin Jatinegara kembali mengelus kedua telingaku.
…to be continued
Istirahat setelah bertualang… Senin, 21 Februari 2011
Juni 2011
- 11 Steps to SUCCESS & HAPPINESS batch # 1 Bandung
Tanggal : 26 Juni 2011, pukul 08.00-20.00
Tempat : Isola Resort UPI, Jalan Dr. Setiabudhi no. 229, Bandung
Juli 2011
- Advance Clinical Hypnotherapy batch # 1 Bandung (Certification Training)
Tanggal : 9-10 Juli 2011, pukul 08.00-17.00
Tempat : Isola Resort UPI, Jalan Dr. Setiabudhi no. 229, Bandung
*Peserta sudah mengikuti Basic Clinical Hypnotherapy
- Basic Clinical Hypnotherapy batch # 5 Bandung (Certification Training)
Tanggal : 24 Juli 2011, pukul 08.00-20.00
Tempat : Isola Resort UPI, Jalan Dr. Setiabudhi no. 229, Bandung


INI DIA! Mereka yang sudah melihat, mendengar, serta merasakan pelatihan yang diadakan Alpha Habits Institute:
Seperti biasa, training yang diadakan Mas Duddy BENAR-BENAR LUAR BIASA! Waktu dan uang yang telah dikeluarkan tidak terbuang percuma. Malah saya merasa bahwa itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan apa yang telah saya peroleh. Makasih banget Mas buat ilmu atau pengalaman yang sudah dibagi di training ini. Pokoknya saya mendapatkan banyak hal yang positif dan benar-benar bermanfaat. ^__^
(Marina Puspa Ningrum, CIMAHI)
Sangat MENAKJUBKAN, AMAZING! Saya seperti hidup di dunia baru. Punya semangat baru untuk mengejar impian saya. Ada kekuatan dan energi LUAR BIASA yang menuntun saya dan membuka mata untuk ke depannya, bahwa segala sesuatunya dapat dicapai. Pasti, komitmen 100%, dan Allah meridhai.
(Via Oktaria, BANDUNG)
SUBHANALLAH… BANYAK, BANYAK, BANYAK sekali ilmu yang saya dapat dari training ini. LANGSUNG dapat memotivasi saya untuk mengaplikasikan ilmu yang hari ini saya dapat. Saya juga merasakan langsung manfaatnya dan yakin dapat berguna, minimal untuk diri saya sendiri.
(Nandia Laraswati, Psikologi Unisba’07)
MANTAP!!! Sangat bermanfaat. Saya bisa memperoleh banyak ilmu dan banyak PENGALAMAN BATIN yang luar biasa. Dan saya menjadi tahu lebih spesifik tentang tujuan hidup saya.
(Muhammad Astiyassa Hidanayu, SUKABUMI)
Saya banyak mendapatkan ilmu untuk bisa membantu orang lain. Motivasi saya SEMAKIN TINGGI untuk meraih segala impian saya dan keyakinan saya semakin kuat—semakin yakin SEYAKIN-YAKINNYA impian tersebut bisa tercapai. Selama training ini juga saya belajar “LETTING GO” secara total!
(Awlia Rahma, PONTIANAK)
Sangat memberikan pengalaman baru bagi saya, khususnya dalam praktik hipnoterapi. Pengalaman ini bisa saya jadikan sebagai modal berharga dalam mempelajari ilmu psikologi, khususnya yang berkaitan dengan hipnoterapi. Tidak membosankan, karena LEBIH BANYAK PRAKTIK. Dan yang terpenting, setelah mengikuti training ini saya menjadi LEBIH PERCAYA DIRI dan YAKIN akan kemampuan diri.
(Kiki Rizki Hizkia, BEM Psikologi Unisba)
Saya KAGET akan hasil dari proses pembelajaran ini. HASILNYA terasa DALAM HITUNGAN MENIT. Setelah belajar, saya mampu mengaplikasikannya kepada orang lain.
(La Ode Ahmadi, GIBASA)
BANYAK BANGET KEJADIAN SERU! Awalnya sih pelatihan hypnotherapy bakal boring dari jam 7 sampe jam 8 malam… hehe, TAPI PAS NGALAMIN, eh TERNYATA SERU BANGET! Ga kerasa udah malam. Pokoknya BANYAK BANGET MANFAAT yang didapat. Pengen jadi terapis handal. Thanks a lot yaa… Alpha Habits Institute. Sukses terus! ^__^
(Mitha Puspita Ramadhini, UNISBA)

Registration & Information:
Sais : 085 220 900 864
Harry : 022 918 91991
Email : alpha.habits.institute@gmail.com
Sampai ketemu di pelatihan!
Duddy Fachrudin
-The World Class Meaningful Motivator
-Penulis Buku “10 Pesan Tersembunyi & 1 Wasiat Rahasia”
-Licensed Trainer of Hypnotherapy from Indonesian Association Clinical Hypnotherapist (IACH)
Kami meyakini bahwa aspek pendidikan adalah salah satu penentu kesuksesan maupun kebahagiaan seseorang. Pendidikan yang dimaksud di sini adalah bukan hanya pendidikan formal (sekolah/kampus), namun yang lebih penting pendidikan di luar sekolah. Misalnya pendidikan (pola asuh) orang tua serta pendidikan kepada diri sendiri—bagaimana menanamkan mindset positif untuk hidup sukses dan bahagia. Ya! SUKSES dan BAHAGIA adalah dua hal yang paling diinginkan dalam hidup manusia, dan Anda pun menyetujuinya, bukan?
Oleh karena itu, sejak 2009, kami—Alpha Habits Institute berkomitmen untuk membantu dan meningkatkan kualitas hidup orang lain melalui pengembangan dan pemberdayaan diri lewat kegiatan training, therapy, coaching, counseling, dan writing. Berikut informasi program-program kami:
TRAINING
1. SUCCESS & HAPPINESS for GREAT Life
· The Journey of SUCCESS & HAPPINESS
· 11 Steps to SUCCESS & HAPPINESS
· Miracle of SUCCESS & HAPPINESS
2. SUCCESS & HAPPINESS Parenting (with Tauhid Nur Azhar)
3. SUCCESS & HAPPINESS Teaching
4. SUCCESS & HAPPINESS Writing
5. SUCCESS & HAPPINESS Public Speaking
6. SUCCESS & HAPPINESS Leadership
7. SUCCESS & HAPPINESS Business & Career
8. SUCCESS & HAPPINESS for Pensioner
9. SUCCESS & HAPPINESS for Kids
10. Basic Clinical Hypnotherapy (Certification Training)
11. Advance Clinical Hypnotherapy (Certification Training)
COACHING
1. SUCCESS & HAPPINESS Coaching Program
2. SUCCESS & HAPPINESS Coaching Program for Teens
THERAPY & COUNSELING
1. Stress
2. Addiction
3. Phobia
4. Trauma
5. Empowerment (Peak Performance)
6. Achievement
7. Psychophysiologis
8. Forgiving
9. Negative Emotions
WRITING (Our Books)
1. Master Map I (2nd Ed)
2. Master Map II (2nd Ed)
3. Academic Psychology Revolution
4. 10 Pesan Tersembunyi & 1 Wasiat Rahasia (Published by Metagraf, Creative Imprint of Tiga Serangkai)
P-E-N-G-U-M-U-M-A-N!
· 100 % Money Back Guarantee! Ya, 100% uang Anda kami kembalikan secara utuh, tanpa syarat, jika Anda merasa tidak mendapatkan manfaat sedikitpun dari program-program kami.
· Dengan mengikuti program-program kami, maka Anda telah ikut berpartisipasi secara sosial. Ya, karena sebagian keuntungan yang diperoleh akan digunakan untuk pembangunan dan pengembangan Rumah Impian Indonesia—rumah pengembangan serta pemberdayaan diri bersifat sosial di mana anak-anak, remaja, atau siapapun, terutama yang tidak mampu, mendapatkan pelatihan, coaching, konseling, terapi gratis. Mereka juga dapat membaca buku, menonton film inspirasi, dan kegiatan lainnya yang dapat mengembangkan serta memberdayakan diri mereka.
HUBUNGI sekarang juga untuk mendapatkan manfaat dari program-program kami.
Alpha Habits Institute
Jalan Sukajadi Atas Belakang No. 227 Bandung 40153
Telp. 022-72247634
Hp. 085220900864 (Sais) dan 02291891991 (Harry)
Email: alpha.habits.institute@gmail.com
Blog: alpha-habits-institute.blogspot.com
Kalau aku jadi orang tua Ana, Ketika ada 2 mahasiswa datang kepadaku. Yang satu sangat serius belajar, sementara yang satunya hanya sibuk membuat tempe dan bakso. Maaf Zam, aku akan memilih yang serius belajar. Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Tapi aku ingin kamu lebih realistis. Cobalah kamu raba, apa kata Kairo tentang dirimu.
(Ustad Mujab kepada Azzam dalam KCB)

Jodoh lagi. Jodoh lagi.
Nggak bosen-bosen.
Oke deh. Gini Kawan, kalo elo-elo pade jadi orang tua dan harus milih antara Tukang Tempe atau Mahasiswa S-2 sebagai mantu untuk anak putri elo, mana yang dipilih? Hmm… pusing?
Kalo gitu, buat kamu kaum Hawa yang lagi nyiapin masa depan (nikah, red), pilih mana Tukang Tempe atau Mahasiswa S-2?
Dan buat kamu kaum Adam, pilih mana Tukang Nasi Uduk atau Asisten Dosen?
Terlepas dari milih-milih. Lebih baik mengeksplor siapa diri kita dulu, right?
Misalnya saya orang yang:
- Analitis
- Banyak mikir
- Detil
- Pokoknya otak kiri banget deh…
Nah sekarang bayangin kalo dapet orang yang sama kayak kamu yang otak kiri. Asik apa asik? Kalo aku nggak asik. Why? Nggak bakal bisa kaya, mau bisnis nggak jadi-jadi. Begitu juga kebalikannya, kalo kita punya karakter otak kanan sementara pasangan kita juga sama, wah bisa berabe, rumah dijamin berantakan, nggak ada yang bersih-bersih!
Lalu? Ya jelas, carilah yang berbeda agar SALING MELENGKAPI. Aku ulangi, carilah yang berbeda agar SALING MELENGKAPI.
- Orang spontan – analitis
- Orang holistik – detil
- Orang yang kurang sabar – sabar
- De-el-el, hehe… (silahkan cari sendiri)
Apa perbedaan itu malah nanti nggak bikin cekcok? Insya Allah nggak, asalkan…
Ini dia! Siapa diantara Anda yang mau tahu syaratnya supaya nggak cekcok?
Kalo tadi kita bicara diferensiasi agar saling melengkapi. Nah sekarang kita bicara samaisasi. Apa yang harus sama? Yang harus sama adalah HOBInya…
Maksudnya? Hobi maen bola harus cari cewek yang juga hobi itu juga?
Hush… bukan itu maksudnya.

Ini dia!
Hobi TAHAJUD, hobi SHALAT DHUHA, hobi SEDEKAH, hobi PUASA SENIN-KAMIS, hobi UMROH, hobi berkunjung ke ANAK YATIM. Nah asik kan kalo hobinya sama. Insya Allah kalo hobinya sama, maka dua-duanya masuk SURGA, hehe…
Daripada bingung milih Tukang Tempe atau Mahasiswa S-2, mending cari yang hobinya sama. REZEKI lebih banyak diraih, IMPIAN lebih mudah dicapai, right?
Suatu ketika seseorang berkata kepadaku, “Cari jodoh itu sama seperti cari daging di pasar. Harus cari yang segar.” Mari kita pikirkan masa depan, mulai terbuka dengan semua orang (wanita bagi Anda yang laki-laki, dan laki-laki bagi Anda yang perempuan). Karena masa depan (baca: nikah), bukan hanya sebatas afeksi dan cinta. Namun juga REZEKI dan SURGA, hehe… ini lebih penting!
Hmm… pasti mulai pada mikir nih. Oh iya ya… cari yang hobinya sama, ups.
19 April 2011
Iseng-iseng setelah nunggu berjam-jam buat perpanjang SIM.
Duddy Fachrudin
The World Class Meaningful Motivator
Tiba-tiba di otak ada yang nyeletuk: Gimana kalo aku udah punya pasangan tapi hobinya nggak sama? Dan otakku keingetan Hukum Newton I: Suatu benda tidak akan berubah sampai benda lain memaksanya berubah. Tapi kan seseorang bisa berubah kalo dia sendiri mau berubah? Iya betul, aku percaya itu. Aku juga percaya Hukum Newton I. Gimana kalo nggak berubah juga? Ya udah tinggalin aja, ribet amat, hehe.
Ku layangkan pandangku melalui kaca jendela
Dari tempatku bersandar seiring lantun kereta
Membawaku melintasi tempat-tempat yang indah
Membuat isi hidupku penuh riuh dan berwarna
(Perjalanan Ini, Padi)
Malam pekat aku duduk di jok belakang. Motor yang dikendarai temanku menderu di atas aspal sunyi tanpa lantang. Kanan-kiri kami sawah membentang. Dalam perjalanan kami ditemani cahaya bulan dan bintang. Motor terus berlari kencang. Angin malam menyapu rambutku yang usang. Imogiri… Imogiri… aku datang!
Tugu Kujang
Hari itu sabtu malam, tanggal 21 di bulan Mei, mengingatkanku pada sebuah perjalanan di mana aku terdampar di Tugu Kujang. Bogor, 28 April pukul 21.30 aku bersama seorang perempuan berusia 18-19 tahun yang akan melakukan wawancara kerja di depan simbol kota hujan. Dia kemudian bertanya suatu daerah di Bogor padaku yang pertama kali ke Bogor! Jadilah aku menemaninya sampai temannya menjemputnya. Padahal aku sendiri tak tahu harus bermalam di mana.
Dua kisah itu tentang perjalanan. Yang pertama: Jogjakarta. Kedua: Bogor. Lalu untuk apa aku ke sana?
Waktu dikalahkan Aokiji, aku pikir masih banyak orang yang lebih kuat daripada ia. Karena itu, aku juga harus lebih kuat demi melindungi teman-temanku… Bukan hanya menjadi lebih kuat… Tapi karena aku ingin selalu bersama teman-temanku. Karena itulah, aku harus lebih kuat daripada siapa pun. Kalau tidak, aku akan kehilangan mereka.
(Luffy saat bertarung melawan Blueno di Enies Lobby)
Kata-kata Luffy aku tulis ulang. Tepatnya di halaman 194 buku “10 Pesan Tersembunyi & 1 Wasiat Rahasia”. Oh ya sebelum dilanjutkan, sebenarnya buku ini tidak mau aku terbitkan karena memang isinya berisi pesan-pesan serta wasiat terlarang. Orang yang membacanya kemudian mempraktekkannya 100% akan mengalami ketidakwajaran dalam hidupnya. Aku ulangi: akan mengalami ketidakwajaran dalam hidupnya. Jadi JANGAN COBA-COBA MEMBELINYA, MEMBACANYA, apalagi MEMPRAKTEKKANNYA! Plis, aku sudah peringatkan dari sekarang. Tanggung sendiri resikonya ya…
Buku TERLARANG!
Kembali ke jalan yang benar.
Begini… kalau orang ingin maju, apa sih yang sebenarnya dibutuhkan? Kalau Luffy, untuk lebih kuat memang harus berlatih. Nah kita? Tentu saja belajar. Itulah kenapa aku melakukan dua perjalanan itu. Belajar Kawan, atau kata lain investasi leher ke atas dalam bentuk ilmu.
Di Bogor aku mengikuti pelatihan Hidup Berlimpah Hidup Berkah (HBHB) yang diadakan DinarCoach Internasional selama 3 hari 3 malam. Mulai pukul 7.30 dan selesai pukul 00.30. Itu 2 hari pertama. Di hari terakhir, training baru selesai pukul 03.00! Inilah pelatihan terlama yang pernah aku ikuti.
Bapak Hasan & Emak: sudah berjualan ketan bakar selama 40 tahun di Bogor…
Suatu malam di lain waktu, salah seorang sahabat bertanya, “Kang kenapa rela-relain ikut training sampai ke luar kota?”
“Hmm… kenapa ya? Aku kan trainer. Harus nyari ilmu. Udah hobi juga, hehe…”
Kebayang Kawan (eh kebayang itu yang suka dipanggil si Borokokok…), kalau ilmuku segitu-segitu aja maka training yang diadakan Alpha Habits Institute pun nggak berkembang. Kalau sudah begitu ya susah nolong orang. Padahal salah satu core values dari kami adalah Help People: Menolong Orang.
Oke kita lanjutkan.
Sementara di Jogja aku belajar pada para Master IACH dan para sekutunya (teman-temannya, red). Dua hari di sana benar-benar muantep. Ilmu hipnoterapi yang didapat dari dr. Gun, ditambah para Master Jogja yang khas RASA metafornya serta versi diriku sendiri kini menyatu dalam hati sanubari yang paling dalam (hualah opo iki…). Nah, enaknya saat di Jogja dibanding Bogor, aku sempat jalan-jalan. Ide pun bermunculan, salah satunya saat membeli sebuah souvenir yang bisa dijadikan alat pendukung ketika training.
Malioboro: ramenya kalau malam minggu…
Satu hal lagi yang didapat ketika kunjungan ke Jogja adalah saat bermalam di rumah seorang kawan di Imogiri yang sepi dan hampir nggak ada sinyal. Di daerah situ pun bisa dihitung dengan jari jumlah anak mudanya yang kuliah di kota. Apa yang didapat di rumah kawan yang baru aku temui dan berkenalan di Jogja itu? Di balik rumahnya yang sangat sederhana dan HP-nya yang jadul, BUKU-BUKUE AKEH PISAN, TELU LEMARI! (buku-bukunya banyak sekali, tiga lemari!). Weleh-weleh… aku jadi teringat teman-temanku yang bergaji 2 jutaan dari Ortunya. (Mereka) investasi buku (ilmu) aja susahnya minta ampun, dan ketika ditawari ikutan training minta gratis. Sementara HP ganti tiap bulan, nonton, DVD, dan urusan perut jadi nomor satu. Padahal ayat pertama yang turun adalah nyuruh manusia adalah iqra (baca atau cari ilmu) bukan nonton apalagi makan.
Baiklah. Sidang pembaca sekalian. Mari kita lanjutkan sedikit lagi.
Hari ini tanggal 1 Juni 2011, dalam satu tahun kami tak terasa sudah mengadakan training “The Journey of SUCCESS & HAPPINESS” (Hypnomotivation) selama 5 angkatan, “Basic Clinical Hypnotherapy” (BCH) 4 angkatan dan 1 kali privat, memberi terapi personal ke puluhan orang, terapi massal hampir ke seribu orang, serta membuat buku. Alhamdulillah… aku sendiri merasa sangat bersyukur dengan pencapaian ini. Aku bertemu banyak orang dan mendapatkan pembelajaran dan inspirasi dari mereka.
Namun aku tak ingin berhenti di sini, karena setelah ini kami akan mengadakan training “11 Steps to SUCCESS & HAPPINESS” dan “Miracle of SUCCESS & HAPPINESS” (lanjutan “The Journey of SUCCESS & HAPPINESS”) serta Advance Clinical Hypnotherapy. Oleh karena itu aku harus terus belajar dan tentu saja mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Aku jadi teringat salah satu hadis yang aku tulis di buku “10 Pesan Tersembunyi & 1 Wasiat Rahasia”:
“Barangsiapa menginginkan kebahagiaan di dunia, ia harus mencapainya dengan ilmu. Dan, barangsiapa menginginkan kebahagiaan akhirat, ia harus mencapainya dengan ilmu. Dan, barangsiapa menginginkan kedua-duanya, ia harus mencapainya dengan ilmu.” (HR. Thabarani)
Siap investasi ilmu?
—Hari pertama di bulan Juni 2011,
Ditemani “10 Pesan Tersembunyi & 1 Wasiat Rahasia”
Duddy Fachrudin
The World Class Meaningful Motivator
Mari memberi, mari melayani. Mari bersedekah, mari berserah. Mari bersimpati, mari berempati. Mari meningkatkan kualitas diri, mari meningkatkan kualitas hidup orang lain. Lalu berjalanlah di bumi dengan tenang, maka engkau SEORANG PEMENANG.
(10 Pesan Tersembunyi & 1 Wasiat Rahasia, Duddy Fachrudin)